Sabtu, 06 Maret 2010

Yousef: Aku Bangga Jadi Agen Israel

TEMPO Interaktif, Mosab Hassan Yousef, putra sulung pemimpin senior Hamas, tak takut dibunuh karena jadi mata-mata pasukan keamanan Israel yang membunuh dan menahan aktivis Hamas. Agen Shin Bet ini menganggap Islam mengajarkan terorisme. Hal itu disampaikan dalam sebuah wawancara di New York, Rabu waktu setempat.

Saat ini dia masih bungkam, namun telah menulis kisahnya sebagai mata-mata dalam sebuah buku yang akan diterbitkan pekan ini dengan judul "Anak Hamas."

"Sejujurnya, pembunuhan bakal terjadi pada diriku," ujarnya dalam wawancara, Rabu, dengan The Associated Press. "Jika mereka ingin membunuhku, mereka akan melakukannya. Dan, mereka bertanggung jawab atas darahku."

Dalam memoarnya, putra pendiri Hamas ini mengaku sebagai aset terbaik Shin Bet, agen keamanan Israel dan dijuluki sebagai Pangeran Hijau, tanda silsilah dalam organisasi Hamas.

Pada saat wawancara yang berlangsung selama 50 menit di markas angkatan darat, Yousef menunjukkan gambar sejumlah pemimpin Hamas termasuk Kepala Politik Khaled Meshaal. Menurut pria 32 tahun ini, umur organisasi Hamas telah mencapai setengah abad. Dan, dia beranggapan bahwa Islam menganjurkan umatnya untuk membunuh.

"Itu bukan agama penuh damai," ujar Yousef, telah murtad ke Kristen. "Teroris terbesar adalah Tuhan Quran. Aku tahu ini akan bikin banyak orang marah dan tersinggung. Semakin Anda mengikuti langkah-langkah Islam, kian dekat menjadi teroris."

Yousef mengatakan, dia mulai bekerjasama dengan Shin Bet setelah dia ditahan dan menyaksikan kebrutalan Hamas di dalam penjara. Saat dia dibebaskan 1997, dia mulai bertemu dengan Shin Bet dan tertarik ke Kristen. Dia berpikir dengan bergabung bersama Shin Bet dapat melakukan banyak hal yang baik yakni mencegah korban di kalangan orang-orang Israel maupun Palestina. "Saya berusaha keras menghentikan pembunuhan."

Yousef, dalam bukunya, secara jelas menceritakan nikmatnya bergabung dengan Shin Bet dan mendisain misi-misi yang dikerjakan, salah satunya adalah membuat bodoh Meshaal yang kini tinggal di Damaskus.

"Aku sangat menyukai pekerjaan sebagai mata-mata intelijen Israel," tulisnya. "Dengan cara ini, ada komunikasi baru dengan Damaskus. Meskipun Meshaal tidak tahu Shin Bet telah mempengaruhinya."

Menurutnya, Hamas tidak tahu bagaimana Shin Bet beroperasi. Sementara Hamas membunuh orang-orang yanag tidak berdosa karena telah berkolaborasi dengan Israel.

Pada kesempatan itu Yousef menolak memberikan keterangan rinci soal hubungan intelijen dengan organisasi keamanan Israel. Dia katakan tak ingin kapasitas operasionalnya terhalangi dan akan memberikan "hadiah gratis" untuk Hamas.

"Mereka berpikir dengan cara-cara kotor," ujarnya mengacu pada pertempuran yang melibatkan Shin Beth dengan Hamas. "Aku tidak setuju dengan yang mereka lakukan, namun itu tugas yang sangat penting bagi mereka."

Dia bekerja dengan Shin Bet selama satu dekade, setelah menganggap sudah cukup Yousef kemudian mengakhiri kesendiriannya sebagai agen mata-mata pada 2007.

Kini, Israel mengizinkan Yousef pergi meninggalkan daerahnya dan selama beberapa bulan menuju Amerika Serikat sebagai petugas satuan pengamanan di toko kelontonng.

Ketika dia bercerita tentang hal tersebut kepada teman-temannya di Amerika, hampir semua orang tidak percaya. Tetapi, sekarang mereka percaya bahwa dirinya adalah putra pemimpin senior Hamas.

Sheikh Hassan Yousef mengakui dalam surat bahwa putra sulungnya bernama Mosab telah meninggalkan keluarganya. "Dia kafir kepada Allah dan bekerjasama dengan musuh kami," ujar Ayahnya yang kini mendekam dalam bui Israel.

Pernyataan ayahnya tidak menyingung dirinya."Saya tahu hatinya," kata Yousef. "Ayahku orang yang penuh kasih sayang. Dia memang tidak akan pernah mengakui saya. Pada titik tertentu kami akan bersama lagi. Aku cinta ayahku, dan ia mencintaiku."

Ditanya kenapa orang-orang harus percaya terhadap buku yang akan didisplai di toko buku Kristen Manhattan, Yousef menjawab " Saya berharap orang-orang tersebut percaya pada kisah ini. Semua orang akan meragukannya."

AP | CHOIRUL